Aku hampir kecopetan

13 Jan

Terjadi pada hari Jumat, 9 January 2009. Jam 10.20 AM.

          Ir pulang kerja jam 10 pagi setelah mendapat ijin dari bos direktur. Ijin ini karena salsa sakit diare (kemungkinan penyebabnya masuk angin atau karena makan jajanan agar-agar yang bukan merek terkenal tapi kemasannya lucu banget—tapi gak lucu lagi setelah tau agar-agar itu kemungkinan menyebabkan anakku diare). 

          Jalanan lancar dan sepi. Setelah aku sampai di Nagrak (Ciangsana), aku naik angkot 02B menuju vila nusa indah 3. Sepertinya aku harus milih angkot yg mangkal setelah belokan karena kalau nunggu angkot yang langsung dari setopan di pinggir jalan nagrak gak mungkin soalnya orang-orang yang nunggu gak ada. Angkot mangkal ini biasanya lamaaaaa baru jalan (nunggu sampai penuh poll). Di depan selain supir ada 1 orang kakek yang duduk. Di kursi belakang cuma aku. Aku duduk di bangku 6. Ternyata angkotnya kemudian jalan walaupun baru ada 2 penumpang. Aku merubah posisi tas supaya aman walaupun angin sepoi-sepoi membuat aku kadang-kadang kebawa lamunan (Mikirin keadaan salsa). Tapi aku terusik ketika ada 1 penumpang, seorang bapak gendut dan besar (aku sebut copet1), yang belum lama naik yang megangin perut, dan mulutnya seperti orang yang mau….. muntah. Iiiiiiiyyyyyy banget. Aku geser sedikit menuju belakang supir karena orang ini mau membuka kaca. Tapi anehnya dia cuma ngomong “buka kaca…buka kaca…” tanpa tangannya bergerak untuk membuka. Sepertinya bapak itu ingin aku yang membukakan. Tapi berhubung aku paling anti ama muntahan, jadi egois aku taro di urutan pertama (dalam hati: “biar aja dia buka kaca sendiri, aku takut kena…iiiyyyy). Aku geser semakin dekat persis dibelakang kursi supir.

          Kemudian bapak itu sibuk lagi sambil “o’..o’…uweeeek” ngomong juga yang ditujukan ke Ir: “minta tissu mbak, ada tissu?”. Aku pun kasihan (plus jijik) dan mencoba mencari tisu di tas. Tas ku ini penuh selalu, semua barang-barang yang ingin aku bawa kemana-mana ada disitu. Sambil mataku sibuk mencari di tas, mataku juga melihat bapak itu memandangi isi tas aku dengan menggerakkan kepalanya kearah tas. 

Langsung aku bilang “Gak ada tisu pak, habis”. 

Bapak tadi: “Minyak angin mbak, ada gak”

Aku: mengulurkan tangan meminjamkan remason. Setelah bapak itu pakai dan mengembalikan padaku, dia muntah-muntah lagi. Aku langsung pindah ke bangku 4, dimana disitu ada bapak2 lain duduk dipojok deket kaca (aku sebut copet2), dan 1 pemuda dipojok deket kaca satunya (aku sebut copet3 – pemuda ini rapi, pake kaos dan topi). Dan entah kenapa 1 pemuda dibangku 2 ikut pindah kesebelah ku (aku sebut copet4 – pemuda ini agak cakep dan suka senyum-senyum). Jadi posisi duduk aku ditengah. Dikiri copet4 dan dikanan copet3. Aku kira pemuda ini takut kena muntah.

Aku:”pak, turun aja dulu kalau mau muntah. Nanti saya kena nih”

copet3: “buka kaca…buka kaca…”

aku: dalam hati: “buka aja sendiri, kaca angkotkan susah dibukanya, keras”

copet 2 dan 3: tutup hidung.

Aku: ikutan tutup hidung sambil jaga jarak kaki supaya gak kena mutah.

copet1: muntahnya bukan keluar kaca, tapi ketengah-tengah angkot, dan yang bisa keluar dari mulutnya cuma… lendir. Iiiiyyyy banget.

Aku: Tapi…, tas aku ketutupan tas copet4 (tas hitam, berbentuk kotak). Aku tarik supaya gak ketutupan lagi. Eeeeehhhh, ternyata, resleting tas aku udah kebuka 1/3nya

Aku: “Astaghfirullah Alaziim”

Buru-buru aku cek keberadaan benda berharga aku (1hp SE K618i, 1hp esia dan dompet). Aman… masih lengkap.

          Baru mau aku gerakin tangan untuk nyetop angkot walaupun belum nyampe rumah, aku mau ganti angkot lain aja. Tapi copet4 sudah ngomong “Stop bang”. Huh, iya, bener, sebaiknya loe turun aja, dasar copet! (dalam hatiku). cuma beda 100 meter, copet 1 turun. 100 meter kemudian copet 3 dan 4 bareng turun.

          Ini kisah nyata. Ini juga pengalaman pribadi aku sendiri ketemu dengan empat gerombolan copet. Jadi sangat tepat jika kita curiga sama orang-orang yang kelakuannya mengganggu kita di angkot. Usaha keempat copet itu menyuruh buka kaca juga upaya mereka untuk mengalihkan perhatian aku. Supaya aku memalingkan muka, konsentrasi buka kaca, dan salah-satu dari mereka bisa membuka resleting tasku, dan mengambil barang berharga aku. Jangan sampe deh kita tertipu sama copet dimanapun kita sedang beraktivitas.

3 Responses to “Aku hampir kecopetan”

  1. ahmad f February 20, 2009 at 11:04 AM #

    copet berjamaah ya bu btw copet no 5 nya kemana bu

  2. Ina November 23, 2011 at 4:15 PM #

    wah motif baru ya… thanks for sharing ya ^^

    • IrNita November 23, 2011 at 4:24 PM #

      iya Ina 🙂 ur welcome… sama-sama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Sweetheart Ransa Shop

Fashion for your sweetheart kids

The TraveLearn

- learning by traveling -

SEMANGAT YANG MENYEGARKAN

seperti aroma teh yang membantu hadirkan inspirasi

Warung Gado-gado Ilmu

Jelajahi dunia ilmu tiada jemu n_n

Cita Lentera

...Berbenah dan Bersemangat...

From Heart to Heart

... mencintaimu, dengan caraku sendiri

Serba Serbi Keluarga Dharmawan

Keseharian Keluarga Dharmawan

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d bloggers like this: